Apa Itu IBS (Indoor Building System)? Solusi Sinyal Stabil di Dalam Gedung

(Photo: Magnific)

Pernahkah Anda mengalami sinyal ponsel tiba-tiba melemah saat memasuki gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, atau bahkan lift dan basement? Padahal, beberapa saat sebelumnya indikator sinyal masih menunjukkan kondisi penuh.

Banyak orang mengira masalah tersebut berasal dari operator seluler. Padahal, penyebabnya sering kali justru berasal dari karakteristik bangunan itu sendiri. Material seperti beton bertulang, kaca Low-E, hingga struktur baja pada gedung modern dapat menghambat sinyal dari BTS (Base Transceiver Station) di luar gedung sehingga koneksi menjadi tidak merata.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, dibutuhkan sebuah sistem yang memang dirancang khusus agar sinyal tetap stabil di dalam bangunan. Solusi tersebut dikenal sebagai Indoor Building System (IBS).

Mengapa Sinyal Menjadi Lemah di Dalam Gedung?

Sinyal seluler dipancarkan dari BTS yang umumnya berada di luar gedung. Ketika sinyal tersebut harus melewati dinding beton, kaca berlapis, plafon, hingga beberapa lantai bangunan, kekuatannya akan berkurang secara signifikan.

Semakin modern sebuah gedung, semakin besar pula potensi terjadinya pelemahan sinyal. Hal ini menjadi semakin penting pada era jaringan 5G karena frekuensi yang lebih tinggi memiliki kemampuan penetrasi yang lebih rendah dibandingkan jaringan sebelumnya.

Akibatnya, pengguna sering mengalami panggilan terputus, internet yang lambat, hingga koneksi yang tidak stabil meskipun berada di area dengan cakupan jaringan operator yang sebenarnya baik.

Apa Itu Indoor Building System (IBS)?

Indoor Building System (IBS) adalah sistem infrastruktur telekomunikasi yang dirancang untuk mendistribusikan sinyal seluler secara merata ke seluruh area di dalam gedung.

Sistem ini menerima sumber sinyal dari operator, kemudian menyalurkannya melalui jaringan kabel dan antena indoor yang dipasang di berbagai titik strategis sehingga pengguna tetap mendapatkan kualitas sinyal yang stabil, bahkan di area yang sulit dijangkau oleh sinyal dari luar.

Dengan adanya IBS, area seperti koridor, ruang meeting, lift, basement, area parkir, hingga ruang operasional tetap memperoleh kualitas jaringan yang optimal.

Bagaimana Cara Kerja IBS?

Cara kerja Indoor Building System sebenarnya cukup sederhana.

Sinyal dari operator seluler diterima melalui sumber jaringan yang telah disediakan. Selanjutnya, sinyal tersebut disalurkan melalui jaringan distribusi yang terdiri dari kabel, splitter, dan antena indoor yang tersebar di berbagai titik dalam gedung.

Antena-antena tersebut kemudian memancarkan kembali sinyal ke area sekitarnya sehingga pengguna dapat menikmati koneksi yang lebih merata tanpa bergantung sepenuhnya pada sinyal dari luar bangunan.

Dengan sistem distribusi ini, kualitas komunikasi suara maupun data dapat tetap terjaga meskipun berada di lokasi yang sebelumnya dikenal sebagai area dengan sinyal lemah.

Komponen Utama Indoor Building System

Indoor Building System terdiri dari beberapa komponen yang saling terintegrasi untuk memastikan distribusi sinyal berjalan dengan baik.

KomponenFungsi
Signal SourceMenyediakan sumber sinyal dari operator seluler.
Distributed Antenna System (DAS)Menyalurkan sinyal ke seluruh area gedung melalui jaringan distribusi.
Splitter & CouplerMembagi jalur distribusi sinyal ke beberapa antena.
Feeder CableMenghubungkan seluruh perangkat dalam sistem IBS.
Indoor AntennaMemancarkan sinyal ke area pengguna di dalam gedung.

Seluruh komponen tersebut bekerja secara terintegrasi untuk memastikan kualitas jaringan tetap merata di seluruh area bangunan.

Apa Perbedaan IBS dan DAS?

Istilah IBS dan DAS sering digunakan secara bersamaan, namun keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Indoor Building System (IBS) merupakan keseluruhan sistem distribusi sinyal di dalam gedung, sedangkan Distributed Antenna System (DAS) merupakan salah satu komponen utama yang berfungsi mendistribusikan sinyal melalui jaringan antena indoor.

Dengan kata lain, DAS adalah bagian dari IBS yang memungkinkan sinyal tersebar secara merata ke berbagai area di dalam bangunan.

Semakin tinggi frekuensi jaringan, semakin sulit pula sinyal menembus material bangunan modern. Itulah sebabnya implementasi jaringan 5G membuat kebutuhan akan Indoor Building System (IBS) menjadi semakin penting. Menurut APJII 2025, penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,66%, sehingga kebutuhan akan konektivitas yang stabil di dalam gedung kini menjadi bagian penting dari infrastruktur digital.

Gedung Apa Saja yang Membutuhkan IBS?

Indoor Building System banyak diterapkan pada bangunan dengan tingkat aktivitas tinggi maupun area yang sulit dijangkau sinyal dari luar, antara lain:

  • Gedung perkantoran
  • Pusat perbelanjaan (mall)
  • Rumah sakit
  • Hotel
  • Apartemen
  • Bandara
  • Stasiun
  • MRT
  • Terowongan
  • Gedung pemerintahan
  • Kawasan industri
  • Data center

Pada bangunan-bangunan tersebut, koneksi yang stabil menjadi bagian penting untuk mendukung komunikasi, operasional bisnis, transaksi digital, hingga perangkat IoT yang digunakan setiap hari.

Mengapa IBS Semakin Penting di Era 5G?

Transformasi digital mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap konektivitas yang cepat dan stabil. Aktivitas seperti video conference, cloud computing, sistem keamanan, transaksi digital, hingga perangkat IoT kini menjadi bagian dari operasional banyak organisasi.

Di sisi lain, jaringan 5G menggunakan frekuensi yang lebih tinggi sehingga lebih mudah terhalang oleh material bangunan modern. Oleh karena itu, implementasi Indoor Building System menjadi salah satu solusi penting untuk memastikan kualitas jaringan tetap optimal di dalam gedung.

Pengalaman Javandra dalam Implementasi IBS

Sejak tahun 2013, Javandra telah mendukung pembangunan berbagai infrastruktur telekomunikasi di Indonesia melalui layanan Wireless Access Network, termasuk implementasi Indoor Building System (IBS), BTS, Small Cell, Microwave, dan Fiber Optic.

Layanan yang diberikan mencakup RF Survey, site assessment, network planning, instalasi, integrasi sistem, commissioning, hingga optimasi jaringan sesuai kebutuhan proyek.

Salah satu implementasi yang telah dikerjakan adalah pembangunan sistem komunikasi pada area MRT Jakarta, yang membutuhkan distribusi sinyal secara optimal di area bawah tanah agar pengguna tetap memperoleh koneksi yang stabil selama berada di stasiun maupun terowongan.

Punya Proyek Gedung Baru atau Modernisasi Jaringan?
Tim Javandra siap membantu mulai dari tahap survei, perencanaan, instalasi, hingga optimasi Indoor Building System (IBS) sesuai kebutuhan proyek Anda.
Punya Proyek Gedung Baru atau Modernisasi Jaringan?
Hubungi Javandra →

Sumber dan Referensi:

1. Ranplan Wireless — Low-E Glass Effect on Indoor Wireless Coverage (2025): ranplanwireless.com

2. Resolution Wireless — Why Low-E Glass Blocks Cell Signals (2025): resolutionwireless.com

3. APJII: Profil Internet Indonesia 2025: apjii.or.id

4. Ericsson — In-Building Coverage Solutions: ericsson.com

Kenapa Sinyal 5G Masih Lemah di Dalam Gedung? Penjelasan dan Solusinya

(Photo: Magnific)

Logo 5G sudah muncul di smartphone Anda. Tapi begitu masuk ke gedung perkantoran, mal, atau parkiran bawah tanah, sinyal tiba-tiba melemah. Ini bukan anomali dan bukan pula kesalahan operator Anda. Ini konsekuensi langsung dari cara kerja gelombang frekuensi tinggi yang digunakan oleh jaringan 5G.

Mengapa Frekuensi Tinggi Susah Menembus Gedung?

5G bekerja pada pita frekuensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan 4G. Di Indonesia, jaringan 5G yang mulai dikomersialisasikan operator besar menggunakan spektrum di sekitar 3,5 GHz, bahkan hingga gelombang milimeter (mmWave) di atas 24 GHz untuk implementasi tertentu.

Prinsip dasar fisika gelombang: semakin tinggi frekuensi, semakin besar kapasitas data yang bisa dibawa. Tapi jangkauan semakin pendek dan gelombang semakin mudah terhalang hambatan fisik. Material bangunan modern menjadi hambatan utama.

Penelitian Resolution Wireless (2025) mencatat kaca Low-E (low-emissivity) yang umum digunakan di gedung perkantoran modern menyebabkan kehilangan sinyal antara 24–40 dB. Hasil senada juga muncul dari Ranplan Wireless (2025), yang mengukur rata-rata atenuasi 27,4 dB pada 28 GHz dan 33,2 dB pada 60 GHz. Karena skala dB bersifat logaritmik, kehilangan 40 dB berarti sinyal melemah hingga 10.000 kali lipat.

Apa Itu Kaca Low-E dan Mengapa Memblokir Sinyal?

Kaca Low-E (low-emissivity) adalah jenis kaca yang dilapisi film metalik tipis. Film ini dirancang untuk memantulkan panas inframerah sehingga gedung lebih hemat energi. Lapisan metalik inilah yang secara tidak sengaja juga memantulkan gelombang radio frekuensi tinggi, termasuk sinyal 5G.

Semakin banyak lapisan metalik pada kaca (beberapa produk premium menggunakan dua atau tiga lapisan), semakin tinggi atenuasinya terhadap sinyal seluler. Masalah ini semakin nyata karena standar bangunan hijau mendorong penggunaan kaca hemat energi di gedung-gedung baru.

Solusi: Small Cell

Small Cell adalah perangkat antena berukuran kecil yang dipasang di dalam atau di sekitar gedung. Berbeda dari BTS konvensional yang berukuran besar dan berjangkauan beberapa kilometer, Small Cell membawa sumber sinyal 5G langsung ke dalam gedung, terhubung ke inti jaringan operator melalui koneksi fiber optik (backhaul), lalu mendistribusikan sinyal secara merata ke seluruh area yang dicakupinya.

Hasilnya: sinyal 5G yang kuat dan konsisten bahkan di basement, terowongan, dan ruangan yang dikelilingi kaca Low-E. Teknologi ini pula yang menjadi solusi di banyak infrastruktur publik padat pengguna, termasuk stasiun MRT, bandara, dan gedung perkantoran bertingkat tinggi.

Javandra dan Small Cell di MRT Jakarta

Salah satu implementasi Small Cell paling menantang adalah di lingkungan terowongan bawah tanah. Javandra mengerjakan instalasi sistem ini di sepanjang jalur MRT Jakarta, proyek yang membutuhkan survei RF (radio frequency) yang presisi, perencanaan sistem dengan memperhitungkan karakteristik propagasi sinyal di terowongan, instalasi dan commissioning yang ketat, serta pengujian menyeluruh sebelum jaringan dapat dioperasikan.

Gedung Anda berencana mengoptimalkan coverage 5G atau wireless indoor?
Javandra siap melakukan RF survey dan merancang solusi yang paling efisien.
Hubungi Tim Javandra →

Sumber dan Referensi:

1. Resolution Wireless — Why Low-E Glass Blocks Cell Signals (2025): resolutionwireless.com

2. Ranplan Wireless — Low-E Glass Effect on 5G/4G Coverage (2025): ranplanwireless.com

3. APJII: Profil Internet Indonesia 2025 via Detik.com: detik.com

Cara Kerja Fiber Optik: Lebih Tipis dari Rambut, Lebih Cepat dari Imajinasi

(Photo: Magnific)

Bayangkan kabel yang diameter intinya hanya 0,009 milimeter. Jauh lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Tapi kabel ini mampu mengirim data dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Itulah fiber optik, teknologi yang diam-diam menopang hampir seluruh aktivitas digital kita setiap hari.

Apa itu Fiber Optik?

Fiber optik adalah media transmisi data yang menggunakan serat kaca atau plastik ultra tipis untuk mengirimkan informasi sebagai pulsa cahaya. Berbeda dari kabel tembaga konvensional yang mengirim data sebagai sinyal listrik, fiber optik bekerja berdasarkan prinsip fisika yang disebut total internal reflection. Cahaya dipantulkan terus-menerus di dalam serat kaca sampai mencapai tujuannya, tanpa kebocoran sinyal yang berarti.

Seberapa Cepat Fiber Optik?

Di dalam serat kaca, cahaya merambat sekitar 200.000 km per detik, kira-kira 67% dari kecepatan cahaya di vakum. Ini terjadi karena refractive index (indeks bias) kaca yang digunakan pada fiber telecom standar berkisar 1,46 hingga 1,47, sehingga sedikit memperlambat cahaya dari kecepatan maksimalnya.

Dalam praktiknya, satu kabel fiber optik modern bisa membawa kapasitas data mulai dari 1 Gbps untuk koneksi rumahan (FTTH), hingga ratusan terabit per detik pada jaringan backbone jarak jauh.

Survei APJII 2025 mencatat pengguna internet Indonesia telah mencapai 229,4 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 80,66%. Lebih dari 8 dari 10 orang Indonesia sudah terhubung ke internet. Seluruh data yang mengalir ke dan dari ratusan juta pengguna ini pada akhirnya melewati infrastruktur fiber optik di suatu titik dalam perjalanannya.

Mengapa Fiber Optik Lebih Unggul dari Kabel Tembaga?

Ada tiga keunggulan utama yang membuat fiber optik menjadi pilihan infrastruktur modern.

  • Tidak terpengaruh gangguan elektromagnetik. Berbeda dari kabel tembaga yang bisa terpengaruh petir, medan magnet, atau interferensi peralatan elektronik di sekitarnya.
  • Stabil untuk jarak sangat jauh. Sinyal bisa ditransmisikan hingga puluhan kilometer tanpa penguat, ideal untuk jaringan antar kota dan kabel bawah laut.
  • Kapasitas jauh lebih besar. Satu kabel fiber optik mampu membawa ribuan kali lebih banyak data dibandingkan kabel tembaga berdiameter sama.

Tipe Kabel Fiber Optik

Ada dua tipe utama yang perlu diketahui dalam konteks infrastruktur telekomunikasi. Pertama, Single Mode Fiber (SMF) dengan diameter inti sangat kecil sekitar 9 mikron. Ini ideal untuk transmisi jarak jauh antar kota atau antar gedung dan digunakan pada jaringan backbone utama. Kedua, Multi Mode Fiber (MMF) dengan diameter inti lebih besar (50–62,5 mikron), cocok untuk jaringan dalam gedung (LAN) dengan jarak pendek hingga beberapa ratus meter.

Fiber Optik dalam Infrastruktur Indonesia

Di Indonesia, fiber optik memainkan peran kritis di berbagai sektor: jaringan backbone operator seluler yang menghubungkan ribuan BTS, sistem komunikasi instansi pemerintah dan korporasi, koneksi antar gedung dalam kawasan bisnis, hingga kabel laut yang menghubungkan pulau-pulau di Nusantara. Seiring penetrasi internet yang kini mencapai 80,66% (APJII 2025), kebutuhan infrastruktur fiber optik yang andal terus tumbuh signifikan.

Layanan Fiber Optik Javandra

Sejak 2013, Javandra menyediakan solusi Wireline Access berbasis fiber optik secara end-to-end. Ini mencakup perencanaan rute dan desain jaringan, pengadaan material, instalasi kabel (underground, aerial, maupun indoor), pekerjaan splicing dengan akurasi tinggi, testing dan commissioning, serta maintenance dan troubleshooting berkala.

Butuh solusi fiber optik untuk gedung, kawasan industri, atau jaringan antar lokasi?
Tim Javandra siap melakukan survei dan menyusun proposal sesuai kebutuhan Anda.
Konsultasi dengan Javandra →

Sumber dan Referensi:

1. How Fast Is Fiber? — HighSpeedInternet.com: highspeedinternet.com

2. Calculating Optical Fiber Latency (Corning SMF-28 data) — M2 Optics: m2optics.com

3. APJII: Profil Internet Indonesia 2025 — via Detik.com: detik.com

4. What is Fiber Optic Cable? — Cloudflare Learning: cloudflare.com/learning

Mengintip Strategi XL Kembangkan IoT untuk Industri 4.0

JAKARTA (IndoTelko) – PT XL Axiata Tbk (XL) mengaku serius mengembangkan Internet of Things (IoT) untuk mendukung pelaku usaha di Indonesia menyambut era revolusi Industri 4.0

Chief Enterprise dan SME XL Axiata, Kirill Mankovski menjelaskan Anak usaha Axiata ini menawarkan solusi IoT yang lengkap, mulai dari IoT Platform sampai solusi siap pakai misalnya “Fleet Management Services”, “Hajj Tracker”, dan juga beberapa solusi untuk agrikultur, manajemen bangunan, dan sebagainya

“Kita mengembangkan IoT dengan konsep berkelanjutan. Kita dengar kebutuhan di masyarakat, kehidupan sehari-hari, kita coba perbaiki, meningkatkan produktifitas dan kita tuangkan itu ke dalam prototype,” ungkapnya kepada IndoTelko, belum lama ini.

Ditambahkannya, XL tak hanya berhenti di prototype, tetapi juga mencoba memasarkan inovasi dan use case berbasis IoT kepada konsumen terutama untuk sektor Agribusiness, logistik, dan Smart building.

Menurutnya, IoT menjadi satu di antara pilar penting bagi pelaku bisnis di Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0. 

“Kita percaya bahwa IoT tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu dukungan ekosistem yang kuat. Dalam hal ini dukungan pemerintah juga harus kuat. Konsep IoT kita selain berkelanjutan, juga mengembangkan ekosistem  dalam hal perangkat, penyedia jasa, platform, serta komunitas, dan  konsumen,” ulasnya.

Diungkapkannya, saat ini XL sudah punya trial untuk IoT di Wonogiri sejak 2017,  Flex IoT (Platform) diluncurkan Agustus 2018, Fleetech (Fleet Management), dan Hajj Tracker.

Aplikasi Hajj Tracker dibidik untuk orang yang pergi haji atau umroh yang akan memudahkan mengetahui posisi jemaah dan juga untuk kebutuhan emergency. 

Selain itu berbagai industri juga sudah menggunakan layanan XL, terutama di sektor perbankan atau pembayaran untuk  connect M2M, EDC, dan lainnya.

Ditambahkannya, XL percaya dalam mengembangkan IoT tergantung dari dukungan komunitas. “Seperti bulan September lalu, kita punya hackathon, dimana semua menggunakan FLEX IOT, ada 18 tim dari seluruh Indonesia yang ikut.  Ajang ini dimanfaatkan XL Axiata untuk mendapatkan ide-ide dan inovasi baru yang diharapkan akan menjadi sebuah terobosan baru yang nantinya akan bisa bermanfaat. Kita mengajak para developer untuk berkembang bersama dalam sebuah ekosistem,” katanya.

Diprediksinya, IoT menjadi bisnis yang menjanjikan dimana pendapatannya akan tumbuh 18% sampai 2021.  Belum lagi, ada prediksi di seluruh dunia bahwa jumlah device IoT akan lebih dari 20 miliar perangkat dimana artinya akan ada 3 device per orang nantinya.(sg)

Source : https://www.indotelko.com/kanal?c=bid&it=mengintip-xl-iot-4-0

Bisnis penyewaan menara telko masih menjanjikan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek bisnis menara telekomunikasi masih menjanjikan. Maklum, operator telekomunikasi terus ekspansi dalam meningkatkan kualitas jaringan dan memperluas jangkauan mereka.

Peluang ini tidak disia-siakan begitu saja oleh perusahaan penyewa menara atau base transceiver stations (BTS). Mereka berlomba-lomba investasi dalam pembangunan BTS hingga ke pelosok negeri, untuk menjaring pelanggan yang lebih banyak.

Di bisnis tower, pemain utamanya adalah PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dengan jumlah tower paling banyak. Menyusul PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, PT Solusi Tunas Pratama (SUPR), Dayamitra Telkom (Mitratel), dan Bali Tower (lihat tabel).

Helmy Yusman Santoso, Direktur PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG), mengatakan, tahun ini bisnis menara masih akan mencatatkan kinerja positif. “Operator telekomunikasi masih berusaha meningkatkan kualitas jaringan dan coverge layanan mereka,” katanya kepada KONTAN, Jumat (19/1).

Sepanjang tahun 2018 ini, TBIG berencana membangun 1.000 tower baru dan 1.500 kolokasi untuk mendongkrak penambahan sebanyak 2.500 tenant. Terkait ekspansi ini, TBIG menggelontorkan anggaran Rp 2 triliun. Hingga September 2017 lalu, Tower Bersama sudah menggaet 2.700 tenant baru.

Helmy menjelaskan, di tahun 2018, perusahaan ini akan fokus mendirikan menara di beberapa daerah, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Kini, TBIG sudah memiliki 13.000-an unit BTS. Selain membangun menara sendiri, TBIG juga mengincar akuisisi dari menara milik perusahan lain. “Pilihan mengakuisisi tetap akan menjadi pertimbangan, apabila valuasinya menarik,” imbuh Helmy.

Setali tiga uang dengan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menyiapkan sejumlah agenda ekspansi untuk menambah jumlah menara tahun ini. lewat anak usahanya Protelindo. Protelindo berencana menambah jumlah tower lewat akuisisi.

Saat ini, TOWR memiliki sekitar 15.000 unit BTS. Kabar yang beredar, TOWR mendekati sejumlah pemilik menara seperti anak usaha PT Nusantara Infrastructure Tbk dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk. Namun, Adam Gifari, Wakil Direktur Utama TOWR, tidak bersedia mengonfirmasi kabar itu. Ia hanya menyatakan, TOWR siap mengakuisisi jika ada tawaran menarik. “Jika ada peluang, kami siap mengakuisisi,” ujarnya.

Pun dengan PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk, lewat anak usaha PT Permata Karya Perdana optimistis bisa menguasai pangsa pasar di Indonesia untuk segmen menara mikro. “Belum banyak perusahaan sejenis yang menyasar segmen mikro,” ungkap Gilang Pramono Seto, Presiden Direktur PT Permata Karya Perdana kepada KONTAN, Sabtu (20/1).

Sampai saat ini, jumlah menara milik Permata Karya lebih dari 300 unit. Rencananya, perusahaan tersebut membangun 300 unit menara lagi hingga akhir tahun nanti.

Source : http://investasi.kontan.co.id/news/bisnis-penyewaan-menara-telko-masih-menjanjikan